Tiga Puisi Rudi Fofid

oleh -78 views
Link Banner


RIWAYAT TUJUH PETI MATI

(requiem, requiem, requiem
naiklah firdaus diiringi malaikat)

laut ungu
gunung ungu
prosesi lagu nestapa
puisi-puisi air mata
lengking terompet ngilu
tujuh peti mati diusung

awan ungu
langit ungu
sudah putus napas
tidak ada ampas
paduan suara sendu
tujuh peti mati diusung
mendung ungu

hujan ungu
biji mata asam
jiwa-jiwa nelangsa
semua bunga layu
tujuh peti mati diusung

(requiem, requiem, requiem
naiklah firdaus diiringi malaikat)

di perempatan jalan yang mati kutu
bocah bertanya kepada ibu
siapa mangkat?
hina atau mulia?
ibu diam beku
tujuh peti mati diusung

didorong keinginan luhur
dan hasrat ingin tahu
ibu hentikan parade jenazah
bola matanya ingin meraba
pada nama dan wajah kaku
tujuh peti mati diusung

aspal ungu
debu-debu ungu
biji mata ibu tumpah
tergenang dalam keranda
semua kekasih ibu terbaring di situ
tujuh peti mati diusung

ibu ungu
peti ungu
ibu tuntun bocah berziarah
pada keranda-keranda
melihat mayat satu per satu
tujuh peti mati diusung

keranda pertama, rasa haru mati dibunuh
keranda kedua, rasa malu tewas digantung
keranda ketiga, hati nurani wafat ditembak
keranda keempat, akal budi mangkat ditombak
keranda kelima, keadilan tutup usia diracun
keranda keenam, kemerdekaan mampus dibius

topan jiwa raga berkecamuk
ibu semaput di sisi keranda ketujuh
ia dibangunkan sang bocah
ibu pun terpaksa siuman
ia tengok keranda ketujuh
ibu mengamuk

Baca Juga  Belanda Temani Jerman ke Putaran Final Euro 2020

ibu kita berdiri tegak tugu
wajah tengadah langit ketujuh
tangan cengkram batang lehernya
sekali amuk, kepala lepas dari akar
ibu serahkan kepada para pembunuh
bertopeng ungu dalam prosesi itu

maka ibu peluk bocah lugu yang bingung
dirapatkan sampai pusat jantung
dengan hanya satu hentakan
sang bocah sudah tiba di rahimnya
“pulanglah ke rumah kudus
sebab kau datang dari situ,” bisik ibu

laut ungu gunung ungu
awan ungu langit ungu
bocah itu tanyakan bunda
mengapa jibaku di muka keranda?
siapakah yang hancur lebur
pada keranda ketujuh

mendung ungu hujan ungu
aspal ungu peti ungu
ibu sandar perut pada keranda ketujuh
meleleh mata bocah di rahim sana
ia saksikan tubuh tuhan seputih salju
telah jadi debu dibungkus kafan ungu

(requiem, requiem, requiem
naiklah firdaus diiringi malaikat)

Kudamati, 4 Agustus 2021

=============


EMAS UNTUK WR SUPRATMAN

pernahkah kau hitung dengan seribu jari tangan
berapa kali di tubuh gunung, lagumu dipanjatkan
atau dilayarkan ke dalam jiwa lautan?

pernahkah kau dengar angin gesek biola
menyanyikan lagumu di pucuk belantara
atau mengalir di sungai-sungai merdeka?

mari layari lautan Indonesia raya
susuri teluk bone, tomini, dan togian
melihat nona-nona kibar bendera di pantai

kau kenal ratulangie, mononutu, tendean
kau kenal monginsidi, palaar, kawilarang
kawan-kawan berjuang di satu paduan suara

kenalkah kau pada nona polii yang perkasa
kenalkah kau pada nona apri yang pesona
merekalah kekasihmu di nadi rudira jaya

Baca Juga  Jagoan Bulu Tangkis Indonesia Guncang Rangking Dunia BWF Junior

lihatlah saat bendera mendaki langit emas
lagumu bergetar laksana gema gempa
di balik warna merah putih masker corona

“bangunlah jiwanya bangunlah badannya!”
di podium itu, nona-nona celebes lagukan emas
untuk jiwa, untuk raga, cintamu, suratman!

Ambon, 4 Agustus 2021

============

SI MANIS BURUNG HANTU SI KUYU BURUNG POMBO

perempuan kuyu baju dekil
kaki telanjang derap duka
tergopoh-gopoh ke rumah gawat
cintanya terbujur kaku
mandi darah ditimpa kayu besi
tumbang di rimba
saat mereka berjuang
bangun rumah rindu

dokter cakar resep
obat cinta luka dalam
maka perempuan kuyu melompat
lari kijang ke apotek ternama

“adakah obat cinta luka dalam?”
tanya perempuan kuyu beribu harap

perempuan manis salon penunggu apotek
sambil ekor mata kiri melirik layar tiktok
pada goyang sensual seksual sensasional
sambil ekor mata kanan melirik perempuan kuyu
dari ujung kuku sampai ubun-ubun

“ada!” jawab si manis
lalu tersenyum puas kepada layar tiktok

“harga berapa,” tanya perempuan kuyu

“tiga ratus,” jawab si manis
sambil diangkatnya tiga jari
dengan mata tetap di tiktok

“saya beli dua,” jawab perempuan kuyu
sambil dia serahkan resep dokter cinta

si manis penunggu apotek
menatap perempuan kuyu
dengan sorot mata burung hantu

“harganya tiga ratus,” nada si manis naik

“ya, saya ambil dua,” nada si kuyu turun

Baca Juga  Hadang Peserta Gabalil Hai Sua, Warga Kabau Palang Jembatan

“tiga ratus itu, tiga ratus ribu,” tekan si manis

“ya, manis, saya ambil dua,” tenang si kuyu

“dua itu, enam ratus ribu,
bukan enam ratus rupiah
ini obat cinta, mahal!”
si manis tiba di nada mayor tertinggi

perempuan kuyu baju dekil
meraba saku kumal di kanan rok
dikeluarkan isinya di atas kaca etalase
dihitungnya uang pattimura
satu, dua, tiga, empat, lima
lima puluh, seratus, dua ratus
tiga ratus, enam ratus

“ini enam ratus ribu
mohon dihitung dulu
jangan sampai saya salah,”
si kuyu tiba di nada minor terendah

si manis mata burung hantu
menatap si kuyu mata pombo
“tidak ada uang besar seratus ribu?”

si kuyu geleng kepala
“saya kaum kecil, malhen
saya cuma punya uang kecil
hasil jual enbal cinta,” jawab si kuyu
sambil menyimpan kembali
uang kecil dari atas meja
sembilan juta empat ratus ribu

si manis menyerahkan dua obat cinta
dengan senyum pahit papaya papari kayu ular
si kuyu tersenyum manis madu gula merah
melati kemuning purnama minyak zaitun

‘’duang e, nit e
semoga cinta lekas sembuh
demi nama bapa, dan putera
dan roh kudus, amin,” begitulah
si kuyu berdoa sambil berlari
laksana burung mantanat
dari apotek sampai rumah gawat darurat

agniya resto & café, 4 agustus 2021

No More Posts Available.

No more pages to load.