Hasil Pilkada Maluku 2024 juga memberikan pelajaran penting. Pasangan Hendrik Lewerissa-Abdullah Vanath meraih 437.379 suara atau 47,40 persen suara sah dan memenangkan kontestasi di delapan dari sebelas kabupaten/kota. Sementara pasangan Murad Ismail-Michael Wattimena yang diusung Partai Golkar harus menerima kekalahan dengan perolehan 397.754 suara atau 43,10 persen. Hasil ini memperlihatkan bahwa dukungan partai, popularitas figur, dan pengalaman kekuasaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan.
Bagi Golkar, kekalahan tersebut semestinya tidak berhenti sebagai catatan statistik, tetapi menjadi bahan evaluasi mendasar tentang efektivitas mesin partai, soliditas dukungan, strategi komunikasi politik, dan kemampuan mempertahankan kepercayaan pemilih. Sebab, dalam politik, kekalahan yang tidak pernah dievaluasi hanya akan menjadi sejarah yang berulang.
Pelajaran terpentingnya adalah bahwa politik kepulauan membutuhkan strategi kepulauan. Partai ini harus memahami karakter pemilih, membaca hubungan sosial, mengenali pengaruh tokoh lokal, dan menyelami persoalan ekonomi masyarakat di setiap wilayah. Tidak cukup mengandalkan kekuatan elite di tingkat provinsi apabila struktur di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa tidak memiliki daya hidup. Politik tidak tumbuh dari baliho yang dipasang menjelang pemilu, tetapi dari hubungan yang dirawat jauh sebelum suara dibutuhkan.









