Porostimur.com, Ambon – Pada 17 Februari 1674, Ambon di Maluku dilanda salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah Indonesia yang dikenal dengan megatsunami Ambon.
Peristiwa megatsunami Ambon dipicu gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo yang memicu longsoran bawah laut. Jal ini lantas menghasilkan gelombang tsunami setinggi 100 meter.
Kilas Balik Kronologi Gempa Bumi dan Megatsunami Ambon 17 Februari 1674
Berdasarkan catatan sejarah dari UNESCO dan laporan Georg Everhard Rumphius, bencana megatsunami Ambon bermula antara pukul 19:30 hingga 20:00 waktu setempat.
Kala itu, gempa bumi dengan magnitudo 6,8 mengguncang wilayah Laut Banda. Episentrumnya terletak di koordinat 3°45′00″S 127°45′00″E, pada kedalaman 40 kilometer.
Guncangan tersebut memicu longsoran besar di dasar laut, yang kemudian menghasilkan gelombang tsunami ekstrem.
Meski kekuatan gempa tergolong sedang, kombinasi dengan longsoran bawah laut menciptakan megatsunami dengan ketinggian mencapai 100 meter.
Gelombang raksasa ini menyapu pesisir Pulau Ambon, Seram, hingga Hitu. Pun menghancurkan hutan, permukiman, serta infrastruktur lainnya.
Georg Everhard Rumphius, botanis Jerman yang selamat dari bencana menyebutkan, lonceng di Kastil Victoria berdentang keras akibat gempa.









