Fadli menatapku heran. “bukannya bawa hp itu larangan pondok ya?” tanyanya polos.
“asal gak ketahuan gak papa toh”
“kalau ketahuan gimana?”
“kalau itu… “ kalimatku menggantung. Sementara otakku berusaha mencerna kata kata fadli barusan.
“ah itu sih urusan belakangan…” kata beni santai
“senior kita juga ada yang bawa hp tapi gak pernah ketahuan…”
Padli berpikir sejenak.
“Ya sudahlah asal kita gak berfikiran yang aneh aneh semua aman” terang beni
Senyum fadli mengembang.
“ya udah sini pinjem van?” pinta fadli
“katanya gak mau..”
fadli tak berkomentar. Lantas kusodorkan hpku padanya. Ia minta diajarin caranya bikin facebook. Sejak saat itu kami selalu bermain sepanjang malam saat para santri sedang terlelap.
Hingga pada suatu malam yang tak pernah aku lupakan dalam hidupku. Hpku tersita oleh kang nashir yang merupakan keamanan pondok saat beliau sedang berpatroli Bersama sesama keamanan. Waktu itu aku sedang beli jajan di kantin. Yang memegang hpku adalah fadli. Apesnya, fadli lagi kebelet kencing sehingga ia hanya menaruhnya di lemariku yang kuncinya masih menggantung pada tempatnya.
Melihat sinar yang muncul dari dalam lemari. Kang nashir dan temannya sudah curiga. Dan membuka lemari yang tak dikunci itu. Setelah kejadian itu, kami disidang pada malam itu termasuk juga beni. Lalu dieksekusi pada pagi harinya. Dihukum gundul guyur.









