Manusia yang diangkat status sosial dan derajatnya karena mewakili amanat rakyat itu justru kerap tidur, bercanda dan berjoget ria kegirangan di tengah kesengsaraan dan penderitaan rakyat yang pilu dan menyayat. Orang-orang berpendidikan yang diduga menyandang gelar pendusta, tuna etika dan cacat moral, hidup glamor dengan banyak previllage.
Kelucuan yang sama sekali tak lucu, bahkan memuakkan dan teramat menyakitkan. Semestinya sebelum menjadi binatang, mereka harusnya menjadi pemimpin yang amanah. Dengan gaji dan fasilitas mewah yang menggiurkan mereka berkewajiban menyuarakan hati nurani rakyat, bukan sebaliknya mengkhianati dan menyakiti rakyat.
Tapi apa boleh dikata, meski dilahirkan dari rahim rakyat, mereka tumbuh besar dengan kelainan kemanusiaan. Tanpa hati dan akal yang tunduk pada Tuhan. Merekalah yang punya mata dan telinga tapi tak mau melihat dan mendengar keluhan rakyat dan perintah Tuhan. Mengabaikan kebenaran dan keadilan, menjadi orang-orang yang tergolong lalai. (*)
Bekasi Kota Patriot, 28 Safar 1447 H/22 Agustus 2025









