Isu panas ini ditiup oleh Kader senior PDI-Perjuangan Maluku Yusuf Leatemia sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya.
“Yang terjadi di Waai itu, kan salah satu masyarakat di sana itu kader PDI-Perjuangan. Masakan kader PDI-Perjuangan ribut kaya gitu tidak ada respon. Harusnya dia panggil dan bicara. Insting politiknya harus jalan. Jangan bikin gap di tengah-tengah masyarakat. Pemimpin seperti ini bagaimana mau membesarkan partai. Setahu saya PDIP di zaman John Mailoa, Karel Ralahalu lalu Edwin Huwae kemenangan di Waai itu diatas 60 persen. Nah, saya sangat yakin, ketika Murad selaku ketua DPD bahkan adanya program pempus menyangkut dengan pembangunan proyek New Port, ada info, katanya tanah-tanah itu sudah dibeli, sebagian juga dia punya. Ditakutkan jangan sampai sengaja, atau mau rampok karena kan di dalamnya juga diduga ada Murad punya tanah. Ini bahaya. Sengaja untungkan diri sandiri,” tukas Leatemia.
Selain persoalan lahan, konon salah satu faktor yang juga menjadi perhatian pemerintah pusat adalah belum tersedianya visibility study proyek dimaksud.
Salah seorang petinggi Kemenko Maritim dan Investasi, Sabtu pekan lalu kepada porostimur.com mengaku, sejauh ini proyek tersebut belum memiliki visibility study, terutama terkait kerentanan lokasi terhadap faktor alam seperti gempa bumi, tsunami maupun kelayakan sebagai pelabuhan dalam jangka waktu lama.










