Sepasang Bendera

oleh -385 views

Di saat-saat perayaan 17-an, rakyat malah merasakan 17 tahun dipermainkan. Maka, saat pemerintah bilang: “Kibarkan Merah Putih di setiap rumah!”, rakyat pun menjawab: “Oke, sekalian kami kibarkan Luffy juga.”

Pemerintah terkejut. “Itu provokasi! Melanggar UU Nomor 24 Tahun 2009!” Rakyat tak mau kalah, menjawab: “Kalau begitu, bikin juga UU tentang harga beras, biaya TKI, dan janji kampanye yang tak ditepati dari pemilu ke pemilu ke pemilu lagi!”

Bendera Luffy bukan penghinaan terhadap Merah Putih. Ia adalah tanda tanya besar yang dikibarkan dengan tiang bambu di halaman rakyat: Apakah kemerdekaan RI yang ke-80 ini memang layak dirayakan dengan bangga?

Jika pemerintah merasa terhina oleh selembar bendera fiksi, barangkali yang sedang terluka bukan simbol negara, melainkan legitimasi moral mereka sendiri.

Ada yang bertanya: adakah nilai seni dalam bendera tengkorak?
Jawaban saya: Tentu. Bahkan lebih jujur dari baliho caleg.

Baca Juga  Kakek dari Bocah dalam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Jailolo Buka Suara

Simbol Jolly Roger adalah seni pop yang telah mengalami transkulturasi makna. Ia tidak lagi sekadar properti anime, tetapi telah direbut rakyat sebagai metafora hidup: kita semua sedang menumpang kapal bocor yang dinakhodai elite yang mabuk kekuasaan.

Seni bukan melulu lukisan yang digantung di galeri elite. Kadang ia tergantung di tiang bambu, melambai di depan gang sempit, diapit warung Indomie dan pos ronda. Di situlah bendera Luffy menjadi seni resistensi.

No More Posts Available.

No more pages to load.