Serang petugas piket, 14 napi berhasil kabur

oleh -73 views
Link Banner

@Porostimur.com | Manokwari : Manokwari kembali diguncang kabar mengejutkan.
14 narapida pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Manokwari, melarikan diri dari tahanan, Minggu (22/4/18) sekitar pukul 15.30 Wit sore.

Saat berhasil dikonfirmasi wartawan via sambungan telepon selular, Minggu (22/4) malam, hal ini dibenarkan Kepala Lapas Kelas IIB Manokwari, Yosef Yembise.

Menurutnya, saat menerima laporan dimaksud, ia sementara berada di Jakarta, dalam rangka mengikuti Indonesia Prison Art Festival.

Link Banner

Ke-14 narapidana ini, jelasnya, melarikan diri melalui pintu depan, setelah melakukan penyerangan terhadap petugas yang ada di ruang piket.

Diakuinya, pihaknya jug sudah melaporkan insiden dimaksud dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat.

”Ya benar, saya dapat laporan dari staf, kalau ada penyerangan terhadap petugas piket, hingga lolos keluar. Kurang lebih ada 14 warga binaan. Saya juga sudah minta bantuan dari Polres Manokwari untuk melakukan pengamanan, karena saya sementara ada di Jakarta, mengikuti Indonesia Prison Art Festival,” ujarnya.

Informasi yang berhasil dihimpun wartawan, identitas ke-14 napi yang melarikan diri yani Alex Baransano (28), Alfre Hara (25), Benhur Samuel Rumbiak (23), Kuri Waromi (25), Brian Mirino (20), Yosep Ayomi (19), Yosep Kambado (18), Emelek Waroi (24), Ade Bolana (34), Marthin Dedaida (28), Jorim Korwa (28), Wilye Rumbarar (23), Koko Prasetyo (22), dan Hosea Rumfabe.
Dimana, ke-14 napi ini diketahui berhasil melarikan diri ke arah Gunung Meja Amban.
Untuk mengetahui penyebab kaburnya belasan napi ini, jelasnya, pihaknya akan melakukan pemeriksaan terhadap petugas piket.

Baca Juga  Pemprov Malut Jadikan Hotel Bintang 4 Lokasi Isolasi PDP Covid-19

Meski demikian, pihaknya juga menyadari akan keterbatasan kapasitas Lapas Kelas IIB Manokwari.

Belum lagi, jumlah warga binaan yang terus bertambah dari hari ke hari tidak sebanding dengan jumlah petugas yang ada.

Dengan kondisi seperti itu, akunya, menjadi ancaman akan keamanan dan ketertiban di dalam lapas itu sendiri.

”Kami tetap melakukan pemeriksaan kepada petugas untuk mengetahui penyebab peristiwa tersebut. Beberapa waktu lalu, melalui media sudah saya sampaikan bahwa dampak dari over kapasitas dan jumlah petugas yang minim, serta sarana prasarana yang tidak memadai, sangat berpotensi terhadap ancaman ketertiban bagi proses pembinaan,” pungkasnya. (jefri)