Beberapa hari sebelumnya, 13 Agustus, publik dikagetkan dengan demonstrasi warga Pati menentang arogansi Bupati. Rakyat Pati menolak kenaikan pajak 250 persen yang akan semakin mencekik hidupnya yang sudah susah.
Obral tunjangan dan fasilitas untuk menyenangkan anggota DPR dan para pejabat, kontras dengan susahnya situasi keuangan negara yang defisit, tidak mampu menggaji guru yang cuma ratusan ribu. Kemudian muncul pula info menggelikan, Danantara akan mengirim ratusan direksi BUMN untuk mengikuti kemping pelatihan di Swiss, berbeaya mahal, agar direksi yang tidak kompeten bisa liburan dibeayai negara. Ini soal kesenjangan kehidupan antara kaum elit dan kaum sulit.
Kontras hidup susah rakyat dengan hidup senang para “wakil rakyat” dan pejabat mengingatkan situasi menjelang revolusi Perancis (1789), Russia (1917), Sri Lanka (2022) dan Bangladesh (2024). Juga situasi Indonesia saat gerakan reformasi 1989.
“Momentum sejarah” akibat situasi kontras susah vs senang sesama-bangsa -beda-nasib, kaum elit vs kaum sulit, sedang menggumpal di Indonesia. Jika elit kekuasaan lupa diri asyik dengan kesenangannya, tidak punya sensitivitas untuk merasakan kesusahan rakyat kebanyakan, maka cuma soal waktu dan butuh pemicu. Kesenangan mereka akan menjadi kesusahan kolektif.









