Namun Fahri mengakui dalam kompetisi demokrasi akan nampak seberapa besar seorang penguasa menggunakan kekuasaan publiknya untuk kepada pribadi dan keluarganya. Fahrilalu menyinggung kasus pelaporan dugaan korupsi terhadap dua anak Jokowi, Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming.
“Belakangan mulai ada keberanian masyarakat melaporkan presiden dan keluarganya terkait bisnis. Ini harus menjadi lampu kuning karena sekali lagi ini adalah semacam “kutukan periode kedua”. Pak SBY juga mengalami pada periode kedua korupsi pejabat partainya terbongkar,” kata Fahri.
Terkait kekuasaan di parpol, Fahri menegaskan lebih mungkin disebut mewariskan dinasti kepada orang yang mewariskan partai politik. Namun menurut klaim Fahri, itu tidak dilakukan oleh Jokowi karena ia bukan pimpinan partai politik dan anaknya bukan pejabat teras partai politik tertentu.
Sementara itu, Fahri mengakui SBY berakhir dengan baik tanpa agenda tambahan yang bermasalah. Tetapi tetap saja mendapat catatan karena SBY yang berusaha menyelamatkan partainya dan mengharuskan dia tetap jadi Ketum Partai Demokrat.
Sekarang partai Demokrat, kata Fahri diwarisi oleh anaknya dan sedikit banyak ada cidera dalam pewarisan, tidak mulus. Ia mengaku sah-sah saja SBY menyelamatkan partai yangg ia dirikan, tetapi oleh sebagian kalangan itu menciderai kenegarawannnya. Namun akhirnya semua publik tau.












