Akibatnya, banyak sopir memilih menyeberang ke Kabupaten Maluku Tenggara untuk mendapatkan BBM. Jika kehabisan stok di satu SPBU, mereka harus kembali mencari SPBU lain dan mengulang antrean dari awal.
“Setahu saya pasokan solar di SPBU BTN Tual hanya sekali dalam satu pekan, sedangkan di Maluku Tenggara bisa tiga kali dalam seminggu,” ujarnya.
Desak Pemerintah Benahi Distribusi BBM
Roni mengungkapkan persoalan kelangkaan solar subsidi sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada DPRD Kota Tual melalui audiensi pada tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada solusi yang dirasakan para pengemudi.
“Tahun lalu pernah audiensi, tetapi tidak ada solusi. Tahun 2026 masalah ini kembali terjadi. Anggota DPRD sulit mendorong perubahan kebijakan sehingga yang dirugikan tetap para pengemudi,” katanya.
Ia berharap pemerintah bersama pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM bersubsidi, khususnya solar, agar pasokan lebih merata dan antrean panjang tidak terus berulang.
Menurutnya, persoalan distribusi tidak hanya terjadi pada solar, tetapi juga sempat dialami BBM jenis Pertalite.
“Percuma saja kalau harganya disubsidi tetapi barangnya tidak ada. Masalahnya bukan di harga, melainkan keterbatasan distribusi,” tandasnya.











