Standar Ganda FIFA Dalam Kasus Israel- Palestina dan Rusia- Ukraina

oleh -23 views
Link Banner

Porostimur.com, Jenewa – Baru-baru ini FIFA mendapat kritik keras lantaran menerapkan standar ganda kepada Rusia dan Israel. Berikut kata FIFA soal invasi Israel ke Palestina.

Serangan Rusia kepada Ukraina dalam dua pekan terakhir membuka wajah lain dari badan sepak bola dunia, FIFA.

Tanpa menyebut ‘politik’, FIFA dan juga UEFA memberikan hukuman berat kepada Rusia: mulai larangan menggelar laga kandang, menjadi tuan rumah liga Champions, pencoretan Spartak Moscow dari Liga Europa, hingga pencoretan timnas Rusia dari Piala Dunia 2022.

Selain FIFA, Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan sejumlah federasi olahraga dunia lain ikut bergabung sebagai anti-Rusia.

Dikutip dari Arabnews, sikap FIFA, UEFA, IOC, dan juga badan olahraga lain itu membuat Palestina yang sejauh ini mendapat serangan Israel bingung.

Dalam laporan tersebut, perang Israel kepada olahraga Palestina memiliki usia yang sama dengan negara Israel itu sendiri.

Akan tetapi, FIFA bersama organisasi olahraga internasional lain tidak melakukan apa pun untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatannya kepada olahraga Palestina.

Israel's defender Orel Dgani (C) is marked by Faroe Islands' midfielder Solvi Vatnhamar (R) during the 2022 Qatar World Cup Asian Qualifiers football match between Israel and Faroe Islands, at the Netanya Stadium, on November 15, 2021 in the Israeli coastal city of Netanya. (Photo by JACK GUEZ / AFP)Timnas Israel perlu mendapat hukuman serupa seperti Rusia. (AFP/JACK GUEZ)

Dalam invasinya, Israel disebut menargetkan stadion di Palestina, membatasi perjalanan atlet, pembatalan acara olahraga, dan penangkapan, bahkan pembunuhan pesepakbola Palestina.

Baca Juga  Pembalap WorldSBK Keturunan Maluku Resmi Bergabung dengan BMW

Akan tetapi FIFA bergeming. Sekalipun memiliki Komite Monitoring FIFA untuk Israel dan Palestina, namun tetap tidak ada hukuman yang dikeluarkan FIFA untuk Israel.

Dalam rilis yang dikeluarkan pada 27 Oktober 2017 silam, FIFA menyatakan konflik antara Israel dan Palestina tidak berkaitan dengan sepak bola.

“Dewan FIFA mengakui bahwa situasi saat ini, untuk alasan yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola, ditandai dengan kompleksitas dan kepekaan yang luar biasa dan oleh keadaan de facto tertentu yang tidak dapat diabaikan atau diubah secara sepihak oleh organisasi non-pemerintah seperti FIFA,” demikian pernyataan FIFA.

Dua tahun setelah pernyataan FIFA itu, Israel makin menjadi setelah dengan kejam membatalkan Piala Palestina FIFA yang mempertemukan tim sepak bola papan atas Gaza, Khadamat Rafah, dan FC Balata dari Tepi Barat di laga final.

Warga Palestina melihat sepak bola sebagai ‘pelarian’ dari kesulitan hidup di bawah pengepungan dan pendudukan. Duel itu sangat dinanti akan menawarkan momen persatuan yang berharga di antara orang-orang Palestina dan akan ditonton oleh banyak orang, terlepas dari afiliasi politik atau lokasi geografis mereka.

Hanya saja tanpa alasan jelas seperti yang dilaporkan oleh majalah AS The Nation, Israel memutuskan untuk menolak momen kegembiraan yang singkat itu bagi warga Palestina.

Baca Juga  Air Laut Pasang, Rumah Warga di Dusun Ketapang SBB Terendam

Tetapi lagi-lagi FIFA tidak melakukan apa-apa meskipun final itu membawa nama lembaga tertinggi sepak bola tersebut.

Sementara itu, klub Israel yang terkenal rasis Beitar Jerusalem diizinkan bermain bebas, seperti tanpa hambatan, dan dilaporkan mengizinkan penggemar mereka menyanyikan lagu rasial.

Ketika Simpati untuk Palestina Berujung Sanksi

Baru-baru ini FIFA mendapat kritik keras lantaran menerapkan standar ganda kepada Rusia dan Israel. Berikut kata FIFA soal invasi Israel ke Palestina.

Memberikan dukungan kepada Palestina mendapat hukuman. (AFP/KARIM JAAFAR)

Pernyataan selanjutnya, FIFA juga menegaskan pihaknya ‘harus tetap netral’ atas yang berkaitan dengan masalah politik.

“Mengingat bahwa status akhir wilayah Tepi Barat adalah perhatian otoritas hukum publik internasional yang kompeten, Dewan FIFA setuju bahwa FIFA, sejalan dengan prinsip umum yang ditetapkan dalam Anggaran Dasarnya, harus tetap netral berkaitan dengan masalah politik,” tulis FIFA.

Melihat situasi yang terjadi pada Rusia dan Ukraina saat ini, pernyataan FIFA itu menjadi standar ganda. Pasalnya, konflik Rusia dan Ukraina merupakan imbas dari kebijakan politik kedua negara dan tidak ada hubungannya dengan sepak bola. Akan tetapi FIFA tanpa keberatan memberikan hukuman berat kepada Rusia yang menyerang Ukraina.

Baca Juga  Lucky Wattimury: Pemerintah Dan Masyarakat Maluku Harus Siap Menyambut Kehadiran LIN

Standar ganda lain yang ditunjukkan FIFA adalah imbas dari solidaritas pihak lain kepada Palestina dan Ukraina.

Saat ini ramai dukungan kepada Ukraina, baik melalui unggahan di media sosial maupun aksi saat di lapangan pertandingan. Meski demikian, tidak ada sanksi kepada mereka yang bersimpati untuk Ukraina.

Kondisi itu berbeda ketika mantan kapten timnas Mesir Mohammed Aboutrika dikartu kuning pada 2009 karena menampilkan kaus yang bertuliskan dalam bahasa Arab dan Inggris ‘Bersimpati dengan Gaza’.

Akibat tindakan itu Aboutrika mendapat peringatan dari Konfederasi Sepak Bola Afrika agar tidak mencampur politik dengan olahraga. Standar ganda FIFA juga yang membuat Aboutrika buka suara baru-baru ini.

“Keputusan untuk menangguhkan klub dan tim Rusia dari semua kompetisi harus disertai dengan larangan terhadap mereka yang berafiliasi dengan Israel, [karena Israel] telah membunuh anak-anak dan wanita di Palestina selama bertahun-tahun,” kata Aboutrika.

Bukan saja FIFA yang berstandar ganda, organisasi olahraga internasional juga bersikap seperti itu lebih dahulu.

Itu terlihat ketika judoka Aljazair Fethi Nourine dan pelatihnya diskors 10 tahun karena mengundurkan diri dari Olimpiade Tokyo 2020 karena menolak melawan atlet Israel.

(red/cnn-indonesia)

No More Posts Available.

No more pages to load.