Sumur Bor Rp1,65 Miliar di Waimital Disorot, Bendungan Ada tapi Tak Dikeruk

oleh -38 Dilihat
Gerard Wakanno mempertanyakan urgensi pembangunan 11 sumur bor yang disebut membutuhkan anggaran sekitar Rp150 juta untuk setiap titik.

Sebab, apabila persoalan utama memang berada pada pendangkalan bendungan akibat material sungai, maka normalisasi atau pengerukan perlu dikaji sebagai salah satu alternatif penyelesaian.

PPL Dipertanyakan, RAB Irigasi Ikut Disorot

Sorotan Gerard tidak berhenti pada pilihan membangun sumur bor.

Ia juga mempertanyakan fungsi koordinasi Dinas Pertanian SBB dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta tenaga pertanian yang bertugas di wilayah Waimital.

Pertanyaan itu muncul setelah, menurut Gerard, Kepala Dinas Pertanian SBB La Radin, S.Sos., menyampaikan bahwa selama ini tidak ada laporan mengenai kondisi bendungan yang tertutup material.

Pernyataan tersebut kemudian dipertanyakan karena kawasan persawahan dan bendungan berada dalam wilayah kerja sektor pertanian, sementara PPL disebut berinteraksi langsung dengan kelompok tani.

Baca Juga  Pengadaan Lahan Bandara Dufo Taliabu Dimulai, 110 Hektare Masuk Kawasan Keselamatan Penerbangan

“Di mana koordinasi dengan PPL yang bertugas di Waimital? Mengapa baru diketahui ketika wartawan bertanya?” demikian kritik Gerard.

Ia juga mempertanyakan keberadaan dokumen RAB Irigasi Perkumpian Desa Waimital Tahun 2026 yang disebut telah disusun secara detail.

Jika benar kondisi bendungan tidak pernah dilaporkan, kata Gerard, maka muncul pertanyaan mengenai dasar penyusunan perencanaan pembangunan irigasi dan sumur bor tersebut.

No More Posts Available.

No more pages to load.