Sejujurnya aku ingin menjadi Spiderman seperti dalam film yang kulihat semalam. Tubuh berubah merah lalu bergelantungan ke pohon dan tiang. Tetapi itu tak pernah terjadi. Tanganku ketika itu tak pernah mengeluarkan benang-benang putih halus dan lengket. Yang terjadi aku kesakitan. Ibu malah terus tertawa, aku makin kencang menangis. Lalu, di sela tangisku itu engkau berkata, “Tumben bapakmu belum pulang dari Surabaya, ini sudah tanggal 28. Ada apa ya? Mudah-mudahan ia baik-baik saja,” suaramu bernada cemas walau mencoba ditahan. Tangisku berhenti saat engkau bilang bapak akan pulang lusa dari kabar telepon tetangga yang punya wartel.
Lain ladang, lain belalang. Itu yang kurasakan sekarang. Anak-anakku tak satu pun yang mengidolakan ayahnya. Berangkat kerja memakai seragam wearpack abu-abu tua dengan seperangkat alat-alat khas maintenance di dalam kotak perkakas. Dan di sela-sela pekerjaanku, kusempatkan pikiranku berkhayal lalu menulis dalam laptopku saat istirahat. Namun, mereka tak pernah ingin jadi seperti ayahnya. Aku malah senang, suatu hari nanti mereka bisa memilih nasibnya sendiri.
“Pa, kapan kita main ke Barcelona? Aku ingin ketemu sama Messi. Foto bareng dan minta tanda tangan.”









