“Tak Ada yang Teriak Radikal” Penganut Yehuwa di Batam Tak Hormat Merah Putih

oleh -157 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Dua orang siswa SMPN 21 Batam dikeluarkan dari sekolahnya lantaran menolak menghormat ke Sang Saka Merah Putih.

Dilansir dari law-justice.co, dua siswa itu disebut menganut keyakinan Saksi-saksi Yehuwa (Jehovah Witnesses).

Dua siswa itu tidak mau menghormat kepada bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu `Indonesia Raya`.

Keputusan ini diambil setelah pembinaan dan pendekatan ke siswa bersama orang tuanya tak membuahkan hasil. Peristiwa itu sendiri sudah terjadi sejak setahun lalu.

“Orang tua sudah sering dipanggil, diberi pemahaman. Daripada berpengaruh ke siswa lain, maka hasil rapat memutuskan seperti itu (mengembalikan ke orang tua),” kata Kadis Pendidikan Kota Batam Hendri Arulan kepada wartawan, Selasa (26/11) kemarin.

Sebelum dikeluarkan, kedua siswa itu tercatat di kelas VIII dan kelas IX SMPN 21 Batam. Hendri menyebut kepercayaan yang dianut oleh dua siswa itu.

Baca Juga  BMKG: Gempa 2,9 Magnitudo Timur Laut Ambon

“Mereka menganut aliran kepercayaan tertentu (Jehovah`s Witnesses). Selama ini, sejak kelas VII, sudah satu tahun lebih setiap upacara tidak mau hormati bendera dan tidak mau nyanyi `Indonesia Raya`, dan kita ambil keputusan itu,” kata Hendri.

Sementara itu Herlina, orang tua salah satu siswa SMP yang dikeluarkan dari sekolah mengatakan kaget saat mendengar kabar tersebut.

“Dulu anak saya di SD Swasta Tirunas tidak pernah dipermasalahkan seperti ini,” kata Herlina dilansir Tempo, 27 November 2019.

Ia menuturkan anaknya pun masuk ke SMP Negeri 21 karena mendapat rekomendasi dari kepercayaan yang ia anut.

“Kami sudah ada sertifikat agama, makanya kok sekarang baru bermasalah,” kata dia.

Herlina mengatakan sudah bertemu dengan sekolah. Dalam pertemuan itu, kata dia, sekolah memberikan pemahaman bahwa anaknya harus mengikuti aturan di sekolah sesuai undang-undang.

Baca Juga  Kakankemenag Halut Safari Jumat di Desa Kao Barat

Salah satunya, soal hormat bendera ketika upacara, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Kami bilang itu iman anak kami, kami juga paham undang-undang, kami sudah sampaikan seperti itu tetapi mereka tidak mau merespon kami,” kata dia.

Herlina membenarkan anaknya tidak mau mengikuti aturan itu. Tetapi, ia menegaskan, anaknya tetap menghormati proses upacara dengan cara berdiri tegap. “Jadi mereka respek gitu, ikut tegap,” kata dia.

Herlina mengatakan dalam ajaran pemahaman kepercayaannya hormat kepada bendera adalah menyembah. “Bagaimana lagi, itu memang hati nurani anak kami yang dilatih dengan alkitab, kami sebagai orang tua mengajarkan sesuatu kebenaran terhadap anak kami,” kata dia.

Herlina menjelaskan, bahwa dalam kitabnya terkait hormat mengangkat tangan adalah melakukan penyembahan.

“Ya hormat kami dengan tidak melanggar iman kami, jadi anak-anak kami seperti itu mereka respek berdiri tegap,” katanya.

Baca Juga  Update Covid-19 Malut, 15 Mei: 85 Positif, 13 Sembuh, 3 Meninggal Dunia

Melansir gelora.co, terkait hal tersebut, warganet media sosial membandingkan dengan pelabelan radikal terhadap oknum-oknum yang tidak mau hormat bendera.

“Kalo giliran agama sebelah mah aman,,anyep ajah dah,,paling di bilang maklumi masih anak anak,,,,,anjiiiirrrrr” ujar akun pejuang jalanan
@Suandipejaten.

“Sepi krn bukan islam” cuit habe @ballaabala

“Tenang aja…!!! ibu n jamaah ibu tdk akan dicap TERORIS n RADIKAL…krn yg Teroris n yg radikal hy umat ISLAM saking Radikal n NEMEN OLEHE DADI TERORIS smp MASJIDpun wajib diawasi…..#REZIMBONEKAPANDA” ucap akun bhrigutantra @bhrigutantra

“Klu ibu ini pakai kerudung, pasti pasukan cebong dipimpin abu janda akan ribut sebulan penuh…” Ujar Jun Jung An @KuahPake

“Gak ada yang teriak teriak nih…” ujar Junaedi @Junaedi_0001

“Kl islam dh dsbut radikal tuh” IndriKaramoy🆕 @irdni_yomarak08 (red/rtl/ljc)