Tambang di Ujung Kekuasaan: Ketika Pulau Gebe Dikorbankan untuk Nikel

oleh -3,486 views

“Kami bukan menolak tambang. Tapi kami menolak dilindas,” kata Siti Halid, petani pala yang lahannya kini berubah jadi jalan tambang.

Sungai Berubah Warna, Gereja Dikepung Tambang

Selain konflik lahan, aktivitas tambang juga diduga mencemari sumber air bersih warga. Sungai-sungai kecil yang dulunya jernih kini berubah warna menjadi kuning kecokelatan. Air minum harus dibeli, padahal dulu tinggal ditimba dari sumur atau dialirkan dari mata air.

Yang lebih mengkhawatirkan: lokasi tambang makin dekat dengan sekolah dasar dan gereja tua yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. “Kami takut anak-anak nanti sekolah di tengah lalu lintas truk tambang,” ujar Pendeta Imanuel F. Toisuta dari Gereja Bethesda Gebe.

Baca Juga  Nurjaya Laporkan Dugaan Perjadin Fiktif DPRD Ternate Rp26 Miliar ke KPK

Gubernur, Pengusaha, atau Keduanya?

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut kasus Pulau Gebe sebagai potret buram kepemimpinan daerah yang gagal menjaga jarak dengan dunia bisnis. Dalam rilisnya, JATAM menyatakan Sherly Tjoanda tidak bisa netral sebagai pemimpin daerah jika dirinya memiliki saham langsung di perusahaan tambang.

“Bagaimana mungkin seorang gubernur bisa mengawasi perusahaan yang dia miliki?” kata Andika Suruan, koordinator JATAM Maluku Utara.

Pemerintah provinsi hingga kini belum memberikan pernyataan resmi, meski tekanan publik terus menguat. Sejumlah pihak meminta KPK dan Ombudsman turun tangan menyelidiki dugaan konflik kepentingan ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.