Rekan penulis dan juga arkeolog maritim Universitas Flinders, Associate Professor Wendy van Duivenvoorde, menuturkan bahwa pada pertengahan abad ke-17, penjelajah dari Belanda yang berada di Maluku mencatat bahwa orang-orang dari pulau-pulau tersebut kerap berlayar ke pantai utara Australia.
“Pengeksplorasi Belanda mencatat kesepakatan dengan pemimpin lokal di Maluku Tenggara mengenai barang-barang seperti cangkang penyu dan teripang, yang kemungkinan diperoleh selama kunjungan mereka ke Australia. Orang-orang Maluku Tenggara juga dikenal sebagai perampok dan pejuang handal, yang aktivitasnya merambah hingga ujung timur nusantara.”
Duivenvoorde mengungkapkan, apapun alasan di balik penggambaran perahu-perahu ini, keberadaannya membuktikan keragaman etnis pelaut dari Kepulauan Asia Tenggara yang dikenali oleh seniman dari Arnhem Land. Hal ini juga menyoroti kesalahan dalam menggunakan label ‘Macassan’ untuk menggambarkan semua perahu non-Eropa.
Memengaruhi Narasi Sejarah
Di sisi lain, penemuan perahu tempur Maluku di Arnhem Land berperan penting dalam memengaruhi narasi sejarah yang ada. Selama ini, kisah tentang hubungan antara penduduk pesisir Macassan dengan Australia Utara lebih banyak berkisar pada aktivitas penangkapan ikan dan perdagangan.




