Perahu-perahu Maluku, yang seringkali dikenal sebagai “kerajinan tempur”, dikaitkan dengan berbagai kegiatan seperti perdagangan, penangkapan ikan, eksploitasi sumber daya, dan bahkan perburuan kepala atau perbudakan. Kehadiran perahu-perahu semacam itu mungkin menandakan adanya potensi konflik atau kekuasaan, yang bisa bersifat fisik atau setidaknya sebagai simbol dari kekuatan dan dominasi.
Namun, detail spesifik mengenai bagaimana dan kapan pertemuan antara seniman Aborigin di Amburbarna dan perahu-perahu Maluku terjadi masih belum terungkap sepenuhnya. Para peneliti menyatakan bahwa untuk memahami konteks yang lebih luas dari interaksi ini, diperlukan penelitian lebih mendalam.
Sering Berlayar ke Pantai Utara Australia
Arkeolog maritim dari Universitas Flinders, Dr. Mick de Ruyter, menyatakan bahwa penemuan perahu-perahu air khas Maluku ini menunjukkan adanya interaksi yang belum jelas antara masyarakat Aborigin di Australia Utara dengan penduduk kepulauan Asia Tenggara. Namun, detail pertemuan tersebut masih penuh misteri.
“Gambaran ini menegaskan dugaan bahwa kunjungan-kunjungan tidak sengaja atau jarang dari Indonesia ke pantai Australia terjadi sebelum atau bersamaan dengan ekspedisi rutin menangkap teripang,” ujar Ruyter.




