Bahkan, ada laporan bahwa seorang komandan justru menghancurkan barang-barang di toko agar tidak lagi menjadi objek penjarahan.
Tidak hanya itu, sebagian prajurit disebut membenarkan tindakan tersebut dengan berbagai alasan, termasuk alasan religius maupun kondisi bangunan yang sudah rusak akibat perang.
“Rasanya seperti tentara telah menjadi tentara Viking,” ujarnya.
Penghancuran Bangunan Jadi Sorotan
Selain penjarahan, kesaksian lain juga mengungkap dugaan penghancuran bangunan secara sistematis di wilayah Lebanon selatan.
Seorang tentara cadangan menyebut banyak operasi dilakukan tanpa adanya pertempuran langsung.
“Ketika kami memasuki desa, tidak ada militan. Rumah-rumah kosong. Tidak ada pertempuran, hanya operasi untuk meratakan rumah-rumah,” katanya.
Ia menambahkan, tentara sering memasuki rumah warga untuk mencari barang berharga sebelum bangunan dihancurkan.
Sejumlah fasilitas publik seperti sekolah dan klinik kesehatan juga dilaporkan turut dihancurkan, meskipun tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan tindakan tersebut.
Disebut Bukan Fenomena Baru
Sejarawan Israel, Adam Raz, menilai praktik penjarahan dalam konflik bukan hal baru, termasuk dalam sejarah militer Israel.
Namun, menurutnya, yang menjadi perhatian adalah minimnya upaya penindakan terhadap praktik tersebut.












