“Kalau Morotai menentukan jalannya Perang Pasifik 1944, maka Maluku hari ini bisa menentukan apakah Indonesia mampu bertahan dari dampak konflik LCS atau justru terseret ke dalamnya,” tegas Engelina.
Penguatan Pangan Lokal sebagai Langkah Antisipasi
Dalam situasi global yang berisiko, Engelina menekankan pentingnya penguatan cadangan pangan lokal di Maluku dan kawasan timur sebagai langkah realistis melindungi rakyat.
“Jika konflik terjadi dan jalur logistik terganggu, maka pasokan pangan akan menjadi persoalan serius. Karena itu, memperkuat pangan lokal adalah pilihan paling bijak,” ujarnya.
Senada dengan itu, pakar pangan Dr. Semmy Leunufna menjelaskan bahwa banyak negara maju telah mengantisipasi krisis global dengan menyimpan sumber daya genetik pangan melalui bank gen nasional.
“Di dunia tersimpan sekitar tujuh juta aksesi sumber daya genetik dari enam ribu spesies tanaman. Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan negara maju lainnya sudah sangat siap,” jelas Semmy.
Ia menyebut, Maluku sejatinya memiliki potensi pangan yang kuat, seperti sagu di Seram dan Buru, ubi-ubian di Maluku Barat Daya dan Tanimbar, pisang, serta padi lokal. Namun, keberlanjutan komoditas tersebut membutuhkan upaya konservasi serius.
“Maluku perlu membentuk bank gen komunitas untuk setiap komoditas pangan lokal, melibatkan pemerintah daerah hingga desa-desa, agar ketahanan pangan tetap terjaga dalam situasi darurat,” jelasnya.










