Namun, pertumbuhan perdagangan digital tersebut tidak serta-merta berarti bahwa pola belanja masyarakat Maluku Utara telah sepenuhnya berpindah dari toko fisik ke platform digital. Karakter masyarakat dan kondisi geografis daerah tetap memengaruhi pilihan konsumen. Bagi sebagian masyarakat, terutama ketika kebutuhan yang dicari tersedia di toko atau pasar yang dapat dijangkau dengan mudah, berbelanja secara langsung masih dianggap lebih praktis karena barang dapat dilihat, diperiksa dan dibawa pulang pada saat yang sama.
Gambaran tersebut setidaknya terlihat dalam riset URALA Indonesia pada 2024 yang dilakukan di lima wilayah Maluku Utara, yakni Kota Ternate, Tobelo, Jailolo, Sofifi dan Weda, dengan melibatkan 372 responden. Dalam riset tersebut, sekitar 7 persen responden mengaku pernah melakukan transaksi atau berbelanja secara online, sedangkan 54 persen responden masih memilih berbelanja secara langsung dengan alasan antara lain jarak toko relatif dekat, barang dapat diperoleh segera, dan transaksi dilakukan secara tatap muka. Temuan tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran keseluruhan masyarakat Maluku Utara, tetapi cukup menarik untuk menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak otomatis menghapus kebiasaan perdagangan konvensional.









