Dengan kata lain, sistem peringatan dini harus berjalan bersama sistem respons yang jelas.
Teknologi Harus Bertemu dengan Kesiapan Warga
Kota Ambon menghadapi ancaman bencana yang tidak sederhana.
Banjir dan longsor menjadi persoalan yang perlu terus diantisipasi. Di sisi lain, karakteristik tektonik kawasan Maluku membuat ancaman gempa dan tsunami tetap menjadi bagian dari risiko yang harus diperhitungkan.
Karena itu, penanggulangan bencana tidak boleh hanya bergerak ketika bencana sudah terjadi.
Mitigasi harus dimulai jauh sebelum ancaman datang.
Pemetaan kawasan rawan, penyediaan sistem peringatan dini, kejelasan jalur dan titik evakuasi, edukasi kebencanaan, simulasi serta penguatan kapasitas aparat dan komunitas harus menjadi bagian dari sistem yang berjalan terus-menerus.
Teknologi hanya salah satu instrumen.
Ujung tombak tetap masyarakat.
EWS secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika warga tidak memahami arti peringatan yang muncul dan tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan setelah menerima informasi.
Masyarakat di sekitar Sungai Wairuhu, misalnya, perlu mengetahui potensi ancaman, memahami jalur menuju tempat aman dan memiliki kesadaran untuk segera merespons ketika sistem peringatan dini aktif.
Hal yang sama berlaku bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan potensi gempa dan tsunami.









