Tsunami 1950 Jadi Alarm, Ambon Perkuat Benteng Mitigasi Bencana dengan EWS Banjir

oleh -120 Dilihat
Tsunami 10 Oktober 1950 bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah Kota Ambon. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman bencana selalu ada dan dapat datang tanpa banyak waktu untuk bersiap.

Dengan kata lain, sistem peringatan dini harus berjalan bersama sistem respons yang jelas.

Teknologi Harus Bertemu dengan Kesiapan Warga

Kota Ambon menghadapi ancaman bencana yang tidak sederhana.

Banjir dan longsor menjadi persoalan yang perlu terus diantisipasi. Di sisi lain, karakteristik tektonik kawasan Maluku membuat ancaman gempa dan tsunami tetap menjadi bagian dari risiko yang harus diperhitungkan.

Karena itu, penanggulangan bencana tidak boleh hanya bergerak ketika bencana sudah terjadi.

Mitigasi harus dimulai jauh sebelum ancaman datang.

Pemetaan kawasan rawan, penyediaan sistem peringatan dini, kejelasan jalur dan titik evakuasi, edukasi kebencanaan, simulasi serta penguatan kapasitas aparat dan komunitas harus menjadi bagian dari sistem yang berjalan terus-menerus.

Baca Juga  Unpatti Lepas PSM Hotumese ke Pesparawi Mahasiswa Nasional XVIII 2026 di Jakarta

Teknologi hanya salah satu instrumen.

Ujung tombak tetap masyarakat.

EWS secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika warga tidak memahami arti peringatan yang muncul dan tidak mengetahui tindakan yang harus dilakukan setelah menerima informasi.

Masyarakat di sekitar Sungai Wairuhu, misalnya, perlu mengetahui potensi ancaman, memahami jalur menuju tempat aman dan memiliki kesadaran untuk segera merespons ketika sistem peringatan dini aktif.

Hal yang sama berlaku bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan potensi gempa dan tsunami.

No More Posts Available.

No more pages to load.