Tsunami 1950 Jadi Alarm, Ambon Perkuat Benteng Mitigasi Bencana dengan EWS Banjir

oleh -120 Dilihat
Tsunami 10 Oktober 1950 bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah Kota Ambon. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa ancaman bencana selalu ada dan dapat datang tanpa banyak waktu untuk bersiap.

Yang dibangun bukan masyarakat yang mudah panik, melainkan masyarakat yang tanggap, terlatih dan tahu harus berbuat apa ketika keadaan darurat terjadi.

Kolaborasi Indonesia-Jepang Perlu Berkelanjutan

Penguatan mitigasi bencana di Ambon juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.

Keterlibatan Kyoto University dan Tohoku University membawa pengalaman Jepang dalam menghadapi gempa, tsunami dan berbagai ancaman bencana lainnya.

Pengalaman tersebut tentu tidak dapat begitu saja diterapkan di Ambon. Karakter geografis, sosial dan kebencanaan setiap wilayah berbeda.

Namun, pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan dari pengalaman panjang Jepang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi Ambon dan Maluku.

Keterlibatan ITB, Universitas Syiah Kuala dan Universitas Pattimura juga memperkuat pendekatan berbasis penelitian, pendidikan dan teknologi.

Baca Juga  Sebut Harta Kekayaan Hendrik Lewerissa Naik Rp15,31 Miliar, MCW Minta KPK Telusuri

Tantangannya adalah memastikan kolaborasi tersebut tidak berakhir bersamaan dengan seremoni peresmian.

Justru setelah tugu berdiri dan EWS dipasang, pekerjaan yang lebih penting dimulai.

Perangkat harus dipelihara. Sistem harus diuji. Data harus diperbarui. Masyarakat harus terus diedukasi. Simulasi evakuasi harus dilakukan. Jalur evakuasi harus jelas dan mudah diakses.

No More Posts Available.

No more pages to load.