Semua itu membutuhkan konsistensi dan koordinasi lintas sektor.
Sebab, mitigasi bencana tidak boleh menjadi program sesaat yang hanya ramai ketika ada peresmian.
Ia harus tumbuh menjadi budaya keselamatan.
Dari Mengenang Korban Menuju Melindungi Generasi
Peresmian Tugu Tsunami 1950 akan memiliki makna yang jauh lebih besar apabila sejarah tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan keselamatan.
Mengenang tsunami bukan hanya soal mengingat apa yang pernah terjadi.
Mengenang berarti belajar.
Belajar dari masa lalu untuk memperbaiki sistem, memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan generasi berikutnya memiliki pengetahuan ketika menghadapi keadaan darurat.
Di titik itulah tugu tsunami dan EWS Sungai Wairuhu memiliki hubungan yang kuat.
Yang satu menjaga memori sejarah.
Yang lainnya menjadi instrumen peringatan menghadapi ancaman masa depan.
Keduanya sama-sama berbicara tentang satu hal: kesiapan.
Ambon tidak bisa menunggu bencana terjadi baru kemudian bergerak.
Semakin siap sebuah kota sebelum bencana datang, semakin besar peluang untuk mengurangi korban jiwa dan kerugian.
Karena itu, langkah Pemerintah Kota Ambon bersama perguruan tinggi tersebut harus dilanjutkan dengan kerja yang lebih panjang dan terukur.
Ambon yang tangguh bukan hanya Ambon yang berkembang secara ekonomi dan sosial, tetapi juga Ambon yang mampu melindungi warganya ketika menghadapi ancaman bencana.









