Uskup, Ormas Islam dan Raja Ampat

oleh -552 views

Jamaah pun ngantuk tak kepalang, dan substansi dari khotbah yang disampaikan oleh tokoh agama tersebut, tak pernah menyentuh dan “bersarang” di pikiran dan hati masyarakat yang mendengarkan ketika mereka keluar dari tempat ibadahnya.

Berbeda dengan tokoh agama yang saya sebut memiliki “mental excellent” di atas tersebut. Mereka tak hanya belajar kaidah agama semata, melainkan juga belajar tentang sosial-budaya-politik yang terus berkembang di sekitarnya.

Tokoh-tokoh agama tersebut pun menjelaskan, mengajak, atau bahkan memberikan koreksi keras pada sektor sosial-budaya-politik yang dinilai tak sesuai dengan ajaran agamanya tersebut.

Uskup Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, paham dan merasakan bagaimana Raja Ampat sebagai “Surga Indonesia” yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada masyarakat Tanah Air sedang diperdayai oleh oligarki yang berkongkalikong dengan penguasa.

Sebagai bentuk penghambaan sungguh-sungguh kepada Sang Pencipta itu, ia memilih bersuara, ia mengkritik, ia mengajak, kepada jamaahnya untuk tidak diam saat melihat keculasan terjadi.

Baca Juga  Bungkam Jerman 2-1, Ekuador Lolos ke 16 Besar Piala Dunia Lewat Jalur Peringkat Ketiga

Apa yang dikhotbahkan oleh Uskup Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, adalah juga konsistensi dari keputusan hierarki sebelumnya. Pada 2024 lalu, Gereja Katolik, melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), menolak tawaran izin usaha pertambangan (IUP) dari Presiden Jokowi.

No More Posts Available.

No more pages to load.