Kajian berlangsung pada 20–24 Maret 2024, mencakup empat titik garis pantai untuk mengetahui karakteristik kawasan pesisir dan lima titik penyelaman untuk mengidentifikasi keanekaragaman hayati serta biota laut.
Sekretaris Desa Welora sekaligus salah satu penggagas Desa Wisata Welora, Markus Laimera, menyambut baik kajian tersebut.
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya kajian daya dukung wisata ini. Mudah-mudahan dari hasilnya nanti, kami dapat berbenah dan meningkatkan pelayanan wisata hingga pengadaan fasilitas yang belum ada di Welora,” ujarnya.
Kepala Desa Welora, Sarjon Walupi, juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama tersebut. Ia memastikan dukungan pemerintah desa terhadap pelaksanaan kajian maupun tindak lanjutnya.
Menurutnya, kerja sama dengan WWF-Indonesia semakin menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat untuk mengembangkan desa wisata yang tetap selaras dengan tujuan konservasi.
Selama ini, masyarakat Welora juga telah terlibat dalam menjaga keanekaragaman hayati laut di sekitar wilayah mereka, baik melalui upaya personal maupun secara administratif.
Marine Tourism and Community Officer WWF-Indonesia untuk Maluku Barat Daya, Anastasia Alerbitu, mengatakan kajian daya dukung penting dilakukan untuk memastikan pengembangan wisata Welora tidak mengorbankan lingkungan.









