10 November 2021

oleh -249 views

Oleh: Syaiful Bahri Ruray, Politisi dan Akademisi

Setiap 10 November, bangsa ini merayakan Hari Pahlawan, sebagai sebuah sikap dan bentuk penghargaan atas jasa dan bakti para pahlawan bangsa, yang rela menukar airmata, darah, bahkan nyawanya, demi harkat dan martabat bangsa ini.

Mereka bertarung, tanpa mengharap balas jasa, tanpa memandang asal usul dan kasta..semua berdiri menegakkan harga diri, meraih sepotong frasa, kemerdekaan.

Frasa merdeka ini, sepotong kata yang demikian mahal dalam sejarah peradaban manusia..
Maluku Utara pun mencatat nama putra2 terbaiknya, demi meraih frasa tersebut. Tercatat sejak lima abad silam, negeri ini, mencatat pertempuran paling berdarah, melawan imperialisme awal di nusantara.

Baabullah Datuk Syah, mengepung Nuestra Senhora del Rosario, hingga 5 tahun. Mencatat kisah awal, bangsa Eropa bertekuk lutut, terusir dari Nusantara. Lalu, dari manakah komitment perjuangan dan kepahlawanan itu terlahir?

Baca Juga  Wali Kota Ambon Tegaskan Seluruh Proses Seleksi Sekda Taat Aturan dan Mekanisme

Ia melalui sebuah proses panjang, pembentukan karakter sang pejuang, ada dua dimensi yang menyatu dalam satu diri sang pahlawan. Dalil Tifa dan Dalil Moro, dua dimensi yang melekat dari satu diri yang disebut Doro Bololo tersebut.

Satunya bermakna eskatologis, satunya lagi bermakna sosiologis. Manusia adalah makhluk profetik dan sekaligus makhluk sosial. Adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dalam hakikat kedirian seorang manusia. Itulah yang membentuk seseorang menjadi pejuang, rela maju digaris terdepan, memimpin, menggerakkan manusia-manusi lainnya, untuk menuju satu cita, yang diperjuangan dengan segenap jiwa raganya. Merebut harkat dan martabat, mencapai MERDEKA.

No More Posts Available.

No more pages to load.