“Selama proses tersebut, petugas BMA (Otoritas Manajemen Perbatasan) menemukan tidak adanya stempel keberangkatan di beberapa paspor mereka, serta fakta bahwa sejumlah pelancong tampaknya tidak memiliki tiket pulang atau alamat akomodasi mereka di Afrika Selatan,” jelas Departemen Dalam Negeri dalam sebuah pernyataan.
Disebutkan bahwa pada saat izin masuk diberikan, 23 pengungsi dari kelompok tersebut telah melanjutkan penerbangan ke tujuan lain.
Sementara itu, Kedutaan Besar Palestina di Afrika Selatan mengatakan, “153 warga Palestina datang dari Gaza melalui Bandara [Eilat] Ramon [di Israel] lalu melalui Nairobi tanpa pemberitahuan atau koordinasi sebelumnya.”
Disebutkan bahwa penerbangan tersebut diatur oleh organisasi yang tidak terdaftar dan menyesatkan.
Kedutaan itu menyatakan, “Organisasi tersebut memanfaatkan kondisi kemanusiaan yang tragis dari orang-orang di Gaza, menipu keluarga, mengumpulkan uang dari mereka, dan memfasilitasi perjalanan mereka dengan cara yang tidak teratur dan tidak bertanggung jawab.”
“Entitas ini kemudian berusaha melepaskan tanggung jawab apa pun setelah timbul komplikasi,” imbuh kedutaan.
Imtiaz Sooliman, pendiri kelompok kemanusiaan Gift of the Givers, mengatakan kepada penyiar SABC bahwa Israel harus disalahkan atas masuknya pengungsi Palestina yang tidak terkoordinasi ke negara tersebut.










