Kata kunci pertama adalah “Komisi” – merujuk pada yang hidup. Ada aktor – sekumpulan orang yang berniat sama. Mereka direkrut negara dengan melewati banyak ujian. Dilatih sana-sini agar integritasnya tak mudah gores oleh rayuan sekecil apapun. Beberapa pegawai adalah lulusan terbaik dari sejumlah kampus. Beberapa yang lain lulusan akademi polisi. Setelah bergabung, orang-orang itu menjalani banyak pelatihan untuk menjadi analis dan tekhnisi di bidang hukum, intelejen, keuangan, auditing, fraud, investigasi, pengamanan, IT hingga komunikasi. Tugas mereka nantinya adalah memastikan tukang rasuah tak bergentayangan.
Tugas itu sebuah kehormatan. Mereka seperti Ronin dalam heroisme Jepang di masa lalu. Dalam sumpah para Ronin – ksatria yang berjuang dengan samurai – kehormatan dan kesetiaan adalah segalanya saat bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan. Mereka tahu jalan kewajiban dan mengikutinya tanpa ragu.
Saya ingat sebuah testimoni dalam film “47 Ronin” besutan sutradara Carl Rinsch dengan aktor utama Keanu Reeves. Oishi, ketua Ronin yang mengabdi pada Asano Naganori, tak terima tuannya dipermalukan dan dipaksa melakukan “seppuku” meski tak bersalah. Ia lalu mengajak para Ronin yang tersisa untuk mengangkat samurai. “Saat kesalahan tak dibalas, saat kejahatan tak dihukum, dunia jadi tak seimbang”.








