3. Ketergantungan pada Sektor Primer
Sebagian besar penduduk Maluku masih menggantungkan hidup dari pertanian, perikanan, dan kehutanan—sektor-sektor yang rentan terhadap perubahan musim dan belum dikelola dengan pendekatan modern.
Minimnya akses ke pasar, teknologi, dan modal menyebabkan produktivitas rendah dan pendapatan tidak menentu. Sementara itu, lapangan kerja formal belum berkembang secara signifikan.
4. Tata Kelola Dana Desa dan Program Sosial Belum Efektif
Meski kucuran Dana Desa dan bantuan sosial cukup besar, pengelolaannya sering tidak tepat sasaran. Banyak desa belum memiliki kapasitas teknis untuk menyusun program yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga miskin.
Laporan evaluasi Kemenko PMK dan TNP2K juga mencatat lemahnya pengawasan, rendahnya partisipasi warga, dan kurangnya inovasi lokal dalam menjalankan program penanggulangan kemiskinan.
5. Investasi Rendah dan Akses Modal Terbatas
Maluku masih belum menjadi daerah yang menarik bagi investor. Tantangan geografis, infrastruktur terbatas, serta minimnya tenaga kerja terampil membuat arus investasi lambat.
Di sisi lain, pelaku UMKM lokal kesulitan mendapat akses modal karena terbatasnya layanan keuangan dan belum terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif.
“Maluku perlu strategi jangka panjang berbasis potensi lokal: laut, pariwisata bahari, dan ekonomi hijau. Tanpa itu, kita akan terjebak dalam lingkaran stagnasi kemiskinan,” kata Johanis Latumahina, ekonom asal Maluku.
Jalan Keluar: Ekonomi Maritim yang Inklusif

Pemerintah Provinsi Maluku ditantang untuk merancang sejumlah strategi pembangunan guna mendorong pertumbuhan ekomoni dan akselerasi pembangunan.









