7 Juli dalam Sejarah Maluku: Ketika Ternate Takluk dan Hitu Melawan

oleh -1,053 views

Porostimur.com, Ambon – Sejarah Maluku mencatat 7 Juli sebagai titik genting kekuasaan lokal beralih ke tangan kolonial. Di bawah tekanan militer dan politik, Kesultanan Ternate menandatangani perjanjian yang menjadikannya vasal VOC. Sebuah babak baru penjajahan di timur Nusantara pun dimulai.

Pagi itu, 7 Juli 1683, laut di sekitar Pulau Ternate nampak tenang, tetapi tidak dengan isi hati para bangsawan kerajaan. Di dalam istana, suasana mencekam menyelimuti ruang perundingan. Meja kayu besar, pena bulu, dan selembar naskah perjanjian bertuliskan bahasa Belanda menjadi saksi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Maluku. Hari itu, Sultan Sibori Amsterdam menandatangani perjanjian politik yang menjadikan Kesultanan Ternate sebagai vasal dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Baca Juga  Reses di Tual, Kolatlena Tampung Aspirasi Kuota Haji hingga Bansos

Sejarawan Belanda, G.J. Knaap, dalam bukunya Kruidnagelen en Christenen: De Verenigde Oostindische Compagnie en de Bevolking van Ambon 1656-1696, menyebut perjanjian itu sebagai bagian dari strategi “penaklukan halus” VOC. Tidak ada meriam yang ditembakkan, tidak ada kapal yang karam, tapi kuasa atas Maluku perlahan beralih tangan.

“Penandatanganan perjanjian itu adalah puncak dari tekanan ekonomi, militer, dan politik yang sudah menumpuk selama beberapa dekade,” kata sejarawan lokal Maluku Utara, Rachmat Lestaluhu. “VOC memang licik. Mereka tak selalu datang dengan senjata, tapi lewat utang, konflik antarkerajaan, dan monopoli dagang.”

No More Posts Available.

No more pages to load.