Rakyat Hitu tidak memiliki tentara kerajaan, tidak didukung kekuatan armada laut besar seperti Ternate. Tapi mereka punya satu hal yang menjadi sumber keberanian: harga diri.
“Portugis mencoba mengubah struktur adat dan agama lokal. Mereka tidak sekadar berdagang, tapi juga menyebarkan kekuasaan,” kata Nurhaliza Tupan, peneliti sejarah di Universitas Pattimura. “Itu yang memicu perlawanan. Orang Hitu menolak tunduk.”
Perlawanan itu tercatat dalam arsip Portugis dan kemudian Belanda sebagai salah satu bentuk “gangguan lokal” yang menyulitkan jalannya misi kolonial. Bahkan pada abad ke-17, VOC harus membangun pos-pos militer tambahan di Jazirah Leihitu untuk meredam gelombang perlawanan rakyat yang tak pernah sepenuhnya padam.
Penaklukan yang Tak Pernah Lengkap
Apa yang terjadi di Ternate dan Hitu pada 7 Juli, meski terpaut puluhan tahun, menggambarkan dua arah respons terhadap kolonialisme: kompromi dan perlawanan. Keduanya lahir dari kondisi sosial-politik yang berbeda, tapi sama-sama mengandung perjuangan untuk bertahan hidup.
VOC mungkin menguasai Maluku dalam catatan arsip dan peta kekuasaan, tapi di banyak wilayah seperti Hitu, Pelauw, dan Seram, perlawanan rakyat terus berlangsung dalam bentuk yang beragam: sabotase, boikot rempah, hingga pembakaran lumbung dan benteng.









