75 Tahun Erros Djarot: Melawan Dengan Kata

oleh -401 views

Dengan kemenangan gerakan Reformasi 1998, ED sempat ikut berada di lingkaran kekuasaan, mendampingi Megawati selaku wakil presiden. Namun ED kemudian tersingkir dari lingkaran kekuasaan, menjelang proses naiknya Megawati menjadi presiden pada 2001. Selanjutnya adalah kisah sejarah, the rest is history.

ED adalah sosok yang selalu terlibat dalam “kemelut sejarah” Indonesia. Sejak masa mudanya di era 1960-an hingga saat ini, masa lansia, di era digital 2025. Sosok yang menolak kemapanan dan selalu mempersoalkan hal ihwal. Satu hal yang menjadi pola kiprah perjuangannya: melawan dengan pena, seni, dan kata-kata.

Sebagai sosok multi-talenta-multi-dimensi yang “tidak mau diam”, dengan berbagai atribut yang menempel pada dirinya, esensi utama ED, menurut saya, .adalah seorang jurnalis aktivis. Ia menerbitkan sejumlah tabloid dan media on-line dari Detik, Detak, Nefos, hingga Watyutink. Juga mendirikan partai politik dan bermacam organisasi, dari Poros Indonesia, PDIP, PNBK, GBN, BTNI, KIBMA.

Baca Juga  FTJ 2026 Resmi Dibuka, Dodinga Dicanangkan sebagai Kampung Wallace

Keterlibatan ED dalam berbagai gerakan sosial dan politik memperlihatkan komitmennya pada nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan. Ia jelas bukan seorang politisi, meski gemar “bermain politik”. Karena ia tidak bisa menjadi bunglon yang siap bermimikri untuk menjadi apa saja — sebagai syarat menjadi politisi. Di Indonesia saat ini, Ia adalah intelektual publik, yang tidak pernah ragu untuk mempersoalkan status quo dan mengajak masyarakat untuk berpikir lebih substansial tentang kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya di Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.