Oleh: M. Agung Djafar, Mahasiswa IAIN Ternate
The New Paradigm
Mungkin pembaca merasa asing dengan tema yang disuguhkan penulis, iya benar, sebab mungkin hal baru selalu akan dipertanyakan. Dengan rasa tawadu dan ikhtiar yang tinggi penulis mencoba menawarkan sebuah paradigma yang disaring dari berbagai perbandingan epistemologi gerakan pembaruan dalam teologi keagamaan.
Sepanjang lintasan sejarah, perdebatan tentang tasawuf atau ilmu kebatinan terutama di kalangan islam masih berfokus pada aspek semantik. Dikarenakan bagi kalangan islam tradisional teologi diartikulasikan sebagai ilmu qalam, yakni suatu disiplin ilmu untuk membuka tabir ketuhanan, bersifat abstrak, normatif dan skolastik. Di sisi lain teruntuk mereka yang mendalami tradisi paradigma barat, para pemikir muslim tersebut tidak mempelajari islam dari disiplin ilmu formal sehingga berimplikasi pada paham tasawuf sebagai interpretasi terhadap realitas dalam kerangka ketuhanan, oleh karenanya lebih mengarah kepada gerakan-gerakan empiris.
Dari case di atas kita dapat memotret satu gambaran bahwa kaum tradisional lebih mengarahkan pemahamannya pada upaya untuk melakukan gerakan-normatif, di lain sisi kaum cendekiawan muslim yang hidup dalam tradisi barat justru mengarahkan pemahamannya pada gerakan potensial-aktual dan empiris. Dari dua percabangan ini penulis melihat bahwa paradigma dari pihak kedua sangatlah perlu untuk dirumuskan sebagai suatu gerakan tasawuf baru yang berkelindan dengan tasawuf transformatif.








