Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis
Pagi itu, istri saya mendadak memeluk sajadah dengan lebih erat. “Mas, lihat itu,” bisiknya setengah takut, “ada keluarga kita pakai gambar tengkorak jadi foto WhatsApp. Serem!” Foto anak kami di WA sudah berubah menjadi tengkorak hitam, sejak 1 Agustus.
Saya menatap layar ponsel, lalu tersenyum. Saya luruskan istri: Itu bukan kutukan dari kuburan. Itu Jolly Roger. Simbol bajak laut. Bendera yang belakangan ini lebih sering dikibarkan ketimbang bendera partai yang biasa nempel di pohon-pohon kampung.
Sialnya, bukan hanya istri yang panik. Pemerintah juga. Bayangkan, negara seluas Indonesia yang pernah mengalahkan Belanda, Jepang, dan sinetron stripping, kini dibuat gusar oleh selembar kain hitam bergambar tengkorak bertopi jerami. Amazing, bukan?
Anda tahu, One Piece bukan sekadar komik Jepang. Ia melegenda sebagai epos tentang kebebasan, solidaritas, dan tentu saja, melawan pemerintah global yang korup, tamak, dan tukang sensor. Cocok, bukan, dengan realitas negeri +62?
Simbol Jolly Roger adalah cermin. Di semesta One Piece, bendera itu tak sekadar mewakili bajak laut, tapi juga mimpi, perlawanan, dan kebebasan memilih jalan hidup sendiri, bahkan jika itu berarti menantang tatanan.









