Porostimur.com, Ternate – Narasi tentang asal-usul Islam di Maluku tak bisa dilepaskan dari sosok Jafar Sadek atau Ja’far Shadiq—figur yang hingga kini hidup di antara batas legenda dan sejarah. Di kalangan masyarakat Maluku, ia diyakini sebagai leluhur empat kesultanan besar: Jailolo, Tidore, Ternate, dan Bacan.
Kisah ini kembali mengemuka dalam berbagai sumber klasik, salah satunya ditulis oleh Naidah, seorang penulis sejarah Ternate yang pernah menjabat sebagai Hukum Soasio pada periode 1859–1864. Dalam catatannya yang kemudian dikutip oleh sejarawan M. Adnan Amal dalam buku Kepulauan Rempah-rempah; Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250–1950, disebutkan bahwa Jafar Sadek tiba di Ternate pada Senin, 6 Muharam 643 Hijriah.
Namun, jejak historis sosok ini tidak tunggal. Berbagai sumber menghadirkan versi berbeda tentang asal-usul dan identitasnya.
Versi Beragam: Arab, Mesir, hingga Cina
Dalam kajian sejarah yang lebih luas, sejarawan Belanda seperti de Graaf dan Pigeaud menyebut bahwa Jafar Sadek bukan sekadar tokoh lokal atau mitologis. Mereka mengaitkannya dengan dunia Islam global, menyebutnya sebagai seorang utusan dari Mesir yang dikirim oleh kekuasaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah.
Di sisi lain, sumber-sumber Cina memberikan perspektif berbeda. Dalam catatan mereka, figur yang diduga sebagai Jafar Sadek dikenal dengan nama Ja Tek Su, seorang Muslim asal Cina yang ahli dalam bidang perkapalan. Ia disebut aktif sebagai penyebar Islam di kawasan Jawa pada abad ke-15, sebelum kemudian dikaitkan dengan perjalanan ke wilayah timur Nusantara.









