7 Hari Kepergian Adinda Irfan Ahmad

oleh -228 views

Oleh: A. Malik Ibrahim

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Selasa malam itu, 7 April 2026, pukul 23.45 WIT, kabar duka datang seperti angin yang tak terlihat namun terasa menghantam dada. Sahabat, adinda, sekaligus sejarawan muda yang penuh gairah intelektual, Irfan Ahmad, telah berpulang. Ia dipanggil kembali oleh Sang Pencipta, meninggalkan jejak sunyi yang tak mudah dihapus oleh waktu.

Duka itu datang, pelan tapi pasti, seperti gelombang yang merambat ke tepian jiwa. Saya mencoba memahami perasaan bernama kehilangan—sebuah ruang hening yang tiba-tiba terasa begitu luas. Namun, sebagaimana ia pernah yakini, hidup adalah perjalanan yang tak pernah lepas dari ketetapan Ilahi. Maka, saya memilih untuk merawat duka ini dalam keikhlasan, bukan keterpurukan.

Jejak Intelektual dan Percakapan yang Tak Usai

Saya mengenal Irfan Ahmad sejak awal 2019, ketika ia mengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Pertemuan kami bermula dari ruang-ruang diskusi, dari percakapan yang tak hanya membicarakan masa lalu, tetapi juga menimbang masa depan.

Baca Juga  Polres SBB Tahan Pria 23 Tahun Tersangka Persetubuhan Anak di Bawah Umur

Suatu waktu, kami membedah buku klasik The City in History karya Lewis Mumford. Dalam diskusi itu, Irfan menyampaikan satu kalimat yang hingga kini terus terngiang:
“Sejarah bukan saja suatu ilmu, melainkan suatu metode.”

No More Posts Available.

No more pages to load.