Menunggu Diri Sendiri dan 3 Puisi Lain Dino Umahuk

oleh -14 views

Menunggu Diri Sendiri

lelaki itu bukan mengirim mimpi
ia sendiri yang terkirim tanpa arah

laut naik bukan sebagai ombak
melainkan sebagai ingatan yang lupa tubuh

ia mabuk—bukan oleh angin
tetapi oleh jarak dari asalnya

segala isyarat yang ia dirikan
hanyalah gema dari dirinya sendiri

mercusuar itu tidak memanggil siapa pun
ia hanya menyala untuk yang belum pulang

perahu kekasih tak pernah dibelokkan angin
ia tak pernah berangkat dari yang satu

lelaki itu menggigil di pulau
padahal pulau itu adalah dadanya sendiri

ia menunggu—
bukan seseorang, bukan waktu

ia menunggu “aku” runtuh
agar laut kembali menyebutnya satu

badai tidak membawa siapa-siapa
ia hanya membuka yang selama ini tertutup

Baca Juga  Hadiri Muscab IMM Ambon, Wali Kota Tekankan Kepemimpinan Transformatif dan Kolaboratif

dan ketika semua hilang—
yang tersisa bukan lelaki, bukan pulau

melainkan satu sunyi
yang tidak lagi membutuhkan kembali

Ambon, 9 Mei 2026

==============

Lenso Putih: Sirr al-Rujū‘

lenso putih itu bukan kain—
ia sirr yang berkibar tanpa angin.
di sana rindu berzikir tanpa lidah,
memanggil yang hilang dari asalnya.

engkau lari dari laut,
padahal laut adalah dirimu sebelum nama.
setiap ombak menyeru “pulang”,
namun telingamu masih penuh dirimu.

percuma engkau menyebut diri sufi,
jika huruf belum gugur dari dada.
jalan ini bukan dilalui kaki,
melainkan oleh runtuhnya “aku”.

“Pulanglah”—bukan suara perempuan,
melainkan seruan dari Yang Tak Terpisah.
ajal bukan akhir perjalanan,
ia hanya pintu bagi yang lupa pulang.

No More Posts Available.

No more pages to load.