Agama Sampah

oleh -269 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tinggi sampah sudah seperti gedung 12 tingkat, mengalahkan semua tinggi bangunan di sekitarnya. Kalau dibiarkan terus, mungkin suatu hari orang bisa mendaki Bantargebang sambil pasang tenda dan membuat konten “healing di atas bukit sampah”.

Karena itu pemerintah mulai memaksa warga memilah sampah dari sumbernya. Maksudnya, dari dapur, dari meja makan.

Dan sebenarnya, ide ini bukan barang baru. Negara-negara lain sudah melakukannya sejak lama. Di Jepang, orang bisa dimarahi tetangga hanya karena salah membuang botol plastik.

Di Jerman, tempat sampah lebih banyak jenisnya daripada partai politik. Sementara di kita, selama ini, semua masuk satu kantong: sisa nasi, popok bayi, kabel rusak, sampai undangan nikahan mantan.

Namun menariknya, ketika aturan ini diumumkan, banyak warga langsung mengeluh. “Repot.” “Ribet.” “Enggak ada untungnya.” Kalimat yang terdengar sangat Indonesia sekali.

Baca Juga  Proyek Jalan Rp11,9 Miliar di Halsel Disorot, Nama Ali Dano dan Rekanan Ikut Terseret

Kita ini memang bangsa yang ingin lingkungan bersih, tapi tidak mau repot memegang sapu. Ingin sungai jernih, tapi bungkus gorengan tetap dilempar ke sana dari atas motor.

Bahkan kadang ada orang yang habis ikut seminar lingkungan, pulangnya meninggalkan gelas plastik di kursi seminar. Kesadaran ekologis kita sering berhenti di spanduk acara.

No More Posts Available.

No more pages to load.