Agama Sampah

oleh -285 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Tetapi pengalaman di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, memberi pelajaran penting. Di sana warga mulai belajar memilah sampah rumah tangga. Awalnya juga sama: malas, bingung, merasa tidak ada manfaat langsung.

Sebab manusia modern memang aneh. Kalau disuruh memilah sampah demi bumi, dia malas. Tapi kalau disuruh antre tiga jam demi diskon kopi susu gula aren, dia sanggup sambil selfie.

Di Rorotan, praktiknya dibuat sesederhana mungkin agar warga tidak merasa sedang ikut ujian doktoral persampahan. Tak usah dipilah jadi lima dulu, agar rakyat tak terbebani. Sampah rumah tangga cukup dipisah dua: organik dan anorganik.

Sisa nasi, sayur, daun, kulit buah, dan limbah dapur dimasukkan ke ember khusus organik. Plastik, botol, kardus, dan kemasan dimasukkan ke wadah anorganik. Kebiasaan ini yang diistiqamahkan, agar nanti jadi tradisi.

Semua coba hendak digerakkan. Dari rumah-rumah warga, kader lingkungan, pengurus RW, PKK, hingga dasawisma diharap dan diminta rutin mengingatkan warga sambil memeriksa apakah pemilahan sudah dilakukan. Itu maunya gubernur.

Baca Juga  Venezuela Tolak Wacana Jadi Negara Bagian AS, Rodriguez: Kedaulatan Tak Bisa Ditawar

Sampah organik kemudian juga maunya diangkut beberapa kali dalam sepekan menuju TPS 3R untuk diolah menjadi kompos atau bahan pengurai. Daun-daun kering diproses dengan mesin komposter di RPTRA. Sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk dipilah lagi, sebagian masuk bank sampah, sebagian dijual ke pengepul daur ulang.

No More Posts Available.

No more pages to load.