Air Mata Hutan, Amarah Tanah

oleh -8 Dilihat

Kita berdoa agar dijauhkan dari bencana, namun terus mendekatkan diri pada sumbernya. Kita meminta perlindungan, namun tak pernah melindungi alam.
Kita meminta keselamatan, namun membiarkan tambang merobek tulang bumi.

Mungkin yang hilang bukan hanya hutan, melainkan rasa malu kita.

Sebab tragedi ini bukan kutukan. Bukan takdir.
Bukan semata hujan.
Ini adalah peringatan terakhir dari bumi yang hampir menyerah pada manusia yang zalim, dan yang terlalu lama menganggap dirinya pusat segalanya.

Dan bila kita tetap tak belajar, suatu hari nanti bukan hanya rumah yang hanyut–tetapi juga nama kita dalam sejarah peradaban. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.