Negara bangga dengan grafik ekonomi yang naik, tetapi menutup mata pada bukit-bukit yang runtuh bersamanya. Cuaca jadi korban untuk disalahkan. Bukan izin; selalu hujan. Bukan penebang; selalu alam, dan juga bukan para perusaknya.
Di sebuah kampung kecil di Sumatera Barat, seorang ibu memegang baju anaknya yang tinggal separuh karena seret arus. “Kami tak pernah menebang hutan,” katanya. “Tapi air datang seperti ingin menghapus kami.”
Petani yang menjaga tanah dengan kesetiaan yang hampir religius justru menjadi korban pertama ketika tanah itu ambruk.
Ironi pahit negeri ini di mana yang menebang tidak tenggelam; yang memberi izin tidak kehilangan rumah; yang merusak tidak pernah berdiri di depan kuburan korban.
Dan manusia bukan satu-satunya korban. Ketika hutan ditebang, seluruh peradaban non-manusia ikut tercerabut. Harimau Sumatera kehilangan jelajahnya, orangutan kehilangan rimbanya, burung kehilangan langitnya. Dan gajah Sumatera—penjaga lanskap, arsitek ekosistem, makhluk yang kelembutannya tak sebanding dengan tubuhnya—terusir dari rumahnya.
Mereka turun ke kampung bukan karena buas, tetapi karena lapar. Mereka merusak ladang bukan karena ganas, melainkan karena habitat mereka dilenyapkan. Namun media menulis: “Gajah menyerang permukiman,” seolah manusia tidak lebih dulu menyerang hutan dengan alat berat dan kepongahan.









