Air Mata Hutan, Amarah Tanah

oleh -180 views

Pada 2013, Harrison Ford datang ke Indonesia sebagai bagian dari dokumenter Years of Living Dangerously. Ia memarahi pejabat republik ini–Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan– karena deforestasi brutal yang merobek Sumatera.

Seorang aktor Hollywood, yang tidak memiliki tanah di sini, bisa lebih marah ketimbang mereka yang memegang mandat untuk menjaganya. Tetapi setelah sorotan kamera padam, negeri ini kembali tuli.
Penebangan berlanjut.

Pembakaran lahan terus terjadi. Sawit monokultur menelan ratusan ribu hektar hutan, menggantikan rimba raya dengan barisan pohon yang hanya menghijau di mata korporasi, bukan di mata alam.

Akibatnya, Sumatera kehilangan akarnya. Bukan dalam makna metaforis, melainkan harfiah. Akar-akar raksasa yang dulu memeluk tanah telah digantikan tunggul mati. Tanah tanpa akar bagai tubuh tanpa tulang. Longsor pun bukan bencana alam; ia lebih pada jeritan bumi yang kehilangan pegangan. Banjir pun bukan semata luapan air; ia adalah air yang kehilangan rumah untuk meresap karena serapannya telah dicabut oleh manusia.

Namun keserakahan selalu menemukan cara untuk memoles dirinya menjadi kebijakan pembangunan.
Pejabat berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, investasi strategis. Padahal yang sedang dibangun bukan masa depan, tetapi reruntuhan masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.