Risha yang hendak meletakan piring di dapur terlepas dan jatuh “PRANGGG” pecahan kaca berhambur kemana-mana. Bagai disambar petir mendadak tubuh risha membeku tak bisa digerakan, matanya mulai memanas
“Apa maksud kamu! aku gak lagi ulangtahunya loh ga jangan prank aku”. tegas risha setengah teriak
“Aku gak bohong dan aku juga gak mau nyakitin kamu, tapi aku juga gak bisa lawan permintaan bunda aku serba salah akutuh”.
“Ternyata kamu sudah menyerah sebelum memulai ga. Aku pikir kamu serius sama aku ternyata dan ternyata semua ekspektasiku itu hancur dengan kalimat ternyata. Aku capek mau tidur”. tanpa disadari setetes air bening jatuh di pipi buru-buru Risha menghapusnya
“Besok aku jemput kamu jam 7 tepat, aku udah booking tiket kereta jam 8”
Setelah mendengar kalimat terakhir dari baga ia mematikan sambungan teleponya. Bibir risha terasa kelu untuk menjawab kalimat akhir dari baga. Mata risha terpejam erat sambil mengepalkan tangan menahan segala kekecawaan dan amarah yang memuncak.
Hancur sudah harapan yang risha bangun dari awal pacaran dengan baga sejak 4 tahun lalu. Risha tak menyangka komitmen yang diucapakan bersama runtuh seketika, selama ini ia pikir hubunganya dengan baga akan berlanjut ke tahap serius, nyatanya segala angan angan itu terampas oleh kenyataan yang amat pahit. Risha tertawa hambar menyadari kebodohan dirinya yang mudah menaruh harapan kepada seorang baga.




