Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -535 views
Fazwan Wasahua

Kita senang menyebut syiah sebagai musuh dalam selimut. Tapi lupa bahwa Zionisme adalah musuh di depan mata. Dan kita, dengan sadar, membiarkannya.
Ketika ada yang berkata: “Jangan percaya pada Iran, itu hanya agenda mereka untuk menyusupkan ideologi,” kita bersorak. Tapi ketika ada diplomat Arab berjabat tangan dengan Israel, kita menyebutnya “langkah strategis.” Logika macam apa yang kita peluk ini?

Mungkin, kita bukan tak tahu. Mungkin, kita hanya takut. Karena musuh yang berbeda mazhab lebih mudah dijadikan sasaran, dibanding musuh yang kuat secara militer, ekonomi, dan didukung Amerika.

Atau mungkin juga kita hanyut dalam ilusi sejarah yang belum selesai. Sunni dan Syiah bukan hanya dua pandangan, tapi dua politik lama yang kini dijadikan alat pembenaran untuk diam di hadapan kekejaman.
Sungguh ironis: kita lebih rela berdamai dengan penjajah asal ia bukan Syiah, daripada berdiri bersama pejuang yang berbeda mazhab.

Baca Juga  Hancurkan Radar Sistem Pertahanan THAAD, Iran: Korban Tewas Tentara AS Tembus 500 Orang

Ada luka yang menganga di Palestina, tapi kita sibuk menyusun daftar kesesatan mazhab Iran. Ada darah yang mengalir dari anak-anak, tapi kita menulis makalah panjang tentang perbedaan rumusan ushul dan fatwa fiqih antara dua tradisi Islam.

Dan sementara itu, Israel tersenyum. Karena kita begitu mudah dipecah. Karena kita lebih sibuk saling mengkafirkan, daripada saling menopang.
Di dunia media sosial, banyak ustad berkoar: “Jangan dukung Iran, itu akan menyesatkan umat!” Tapi mereka tak pernah berani berkata: “Jangan diam terhadap Israel.” Mungkin, ustad-ustad itu tidak menyesatkan umat—namun mereka menyesatkan nurani.

No More Posts Available.

No more pages to load.