Kita tidak sedang kalah karena kekuatan musuh. Kita sedang kalah karena kita memilih menjauh dari siapa pun yang bukan bagian dari kelompok kecil kita.
Dan sejarah pun akan mencatat: ketika sebuah negeri kecil bernama Iran menawarkan perlawanan, kita—yang merasa diri Islam sejati—justru sibuk mempertanyakan mazhabnya.
Dalam kebisingan fatwa dan forum internasional, yang diam adalah hati nurani. Dan Israel tahu itu. Maka ia terus melangkah. Sementara kita masih sibuk bertanya: “Apakah mereka Syiah?”
Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis
Di sebuah masjid kecil di Damaskus, seorang khatib pernah berseru dengan lantang, “Persatuan umat lebih utama daripada perbedaan mazhab.” Jamaah mengangguk, mengucap amin, lalu pulang—dan di ruang makan mereka, berita tentang Iran tetap dianggap berita dari negeri kafir. Kita memeluk ukhuwah dengan lisan, namun menolak tangan yang menjulur karena ia berasal dari mazhab yang salah.
Iran, dalam pandangan sebagian besar umat Islam, bukanlah saudara. Ia syiah. Ia sesat. Ia bukan dari barisan yang sama. Padahal, ia berkata: mari bersama melawan zionisme. Tapi kita mengangkat bahu. Kita menganggap itu akal-akalan politik. Kita lebih percaya bahwa permusuhan mazhab lebih nyata dari kejahatan penjajahan.









