Iran tentu tak suci. Politiknya berlapis. Seperti juga negeri-negeri Arab. Seperti juga kita. Tapi ada hal yang tak bisa diabaikan: Iran tidak bersekutu dengan Israel, tidak dengan Inggris, juga Amerika. Sementara sebagian dari kita justru mengadakan forum dagang bersamanya.
Ada yang menyebut perlawanan Iran sebagai sandiwara. Tapi mereka yang mati di Lebanon selatan tak menyebutnya begitu. Mereka yang terkena rudal balasan di Haifa tahu itu bukan lakon. Mereka yang bertahan di Gaza juga tahu siapa yang mengirimkan senjata, dan siapa yang hanya mengirim doa di mimbar-mimbar mewah.
Kita senang menyebut syiah sebagai musuh dalam selimut. Tapi lupa bahwa Zionisme adalah musuh di depan mata. Dan kita, dengan sadar, membiarkannya.
Ketika ada yang berkata: “Jangan percaya pada Iran, itu hanya agenda mereka untuk menyusupkan ideologi,” kita bersorak. Tapi ketika ada diplomat Arab berjabat tangan dengan Israel, kita menyebutnya “langkah strategis.” Logika macam apa yang kita peluk ini?
Mungkin, kita bukan tak tahu. Mungkin, kita hanya takut. Karena musuh yang berbeda mazhab lebih mudah dijadikan sasaran, dibanding musuh yang kuat secara militer, ekonomi, dan didukung Amerika.
Atau mungkin juga kita hanyut dalam ilusi sejarah yang belum selesai. Sunni dan Syiah bukan hanya dua pandangan, tapi dua politik lama yang kini dijadikan alat pembenaran untuk diam di hadapan kekejaman.









