Sungguh ironis: kita lebih rela berdamai dengan penjajah asal ia bukan Syiah, daripada berdiri bersama pejuang yang berbeda mazhab.
Ada luka yang menganga di Palestina, tapi kita sibuk menyusun daftar kesesatan mazhab Iran. Ada darah yang mengalir dari anak-anak, tapi kita menulis makalah panjang tentang perbedaan rumusan ushul dan fatwa fiqih antara dua tradisi Islam.
Dan sementara itu, Israel tersenyum. Karena kita begitu mudah dipecah. Karena kita lebih sibuk saling mengkafirkan, daripada saling menopang.
Di dunia media sosial, banyak ustad berkoar: “Jangan dukung Iran, itu akan menyesatkan umat!” Tapi mereka tak pernah berani berkata: “Jangan diam terhadap Israel.” Mungkin, ustad-ustad itu tidak menyesatkan umat—namun mereka menyesatkan nurani.
Dalam peradaban yang katanya menjunjung ukhuwah, kita justru membangun tembok-tembok baru. Kita tak berani menyebut diri pengecut. Maka kita menyebut diri pembela sunnah. Tapi apa gunanya sunnah jika kita diam terhadap pembantaian?
Kita menolak Iran bukan karena kezaliman mereka—tapi karena label mazhab. Kita tak peduli jika mereka membela Palestina. Kita hanya peduli mereka bukan bagian dari “kelompok kita”.
Dan inilah tragedi kita: kita tak mampu melawan bersama, karena kita terlalu sibuk memilah siapa yang layak diajak bekerjasama. Kita menakar perlawanan dengan standar akidah versi kita. Padahal yang tertindas tak butuh mazhab, mereka butuh solidaritas.









