Dalam peradaban yang katanya menjunjung ukhuwah, kita justru membangun tembok-tembok baru. Kita tak berani menyebut diri pengecut. Maka kita menyebut diri pembela sunnah. Tapi apa gunanya sunnah jika kita diam terhadap pembantaian?
Kita menolak Iran bukan karena kezaliman mereka—tapi karena label mazhab. Kita tak peduli jika mereka membela Palestina. Kita hanya peduli mereka bukan bagian dari “kelompok kita”.
Dan inilah tragedi kita: kita tak mampu melawan bersama, karena kita terlalu sibuk memilah siapa yang layak diajak bekerjasama. Kita menakar perlawanan dengan standar akidah versi kita. Padahal yang tertindas tak butuh mazhab, mereka butuh solidaritas.
Islam yang kita pahami hari ini terlalu sempit untuk menampung keragaman. Terlalu keras untuk mendengar perbedaan. Terlalu lemah untuk melawan penjajahan, tapi terlalu lantang untuk membid’ahkan saudara sendiri.
Barangkali kita lupa: Al-Husain juga dibunuh bukan oleh orang kafir, tapi oleh umat Islam yang menganggapnya duri dalam kekuasaan. Kita sedang mengulangi sejarah itu—dengan bahasa yang lebih halus, dengan diplomasi yang lebih sopan, tapi tetap berujung pengkhianatan.
Mazhab boleh berbeda. Tapi penjajahan tak boleh diberi ruang. Sayangnya, kita lebih siap memusuhi saudara beda mazhab daripada melawan musuh bersama.









