Jika Islam tak sanggup membela yang tertindas hanya karena ia Syiah, maka barangkali yang layak kita pertanyakan bukan hanya Iran—tapi diri kita sendiri.
Sementara itu, mereka pun punya dalil sejarah. Katanya: lihatlah Salahuddin. Sebelum membebaskan Al-Quds, ia menaklukkan Mesir—yang waktu itu dikuasai Dinasti Fatimiyah, sebuah kekuasaan Syiah Ismailiyah. Maka, kata mereka, untuk melawan penjajah, bersihkan dulu bid’ah dalam rumah sendiri.
Lalu narasi itu dikutip, diulang, dicetak, disebar. Di mimbar-mimbar masjid dan seminar internasional. Seolah sejarah adalah garis lurus yang tak bisa digugat. Seolah realitas abad ke-12 bisa langsung dipindahkan ke abad ke-21, tanpa perbedaan konteks, politik, bahkan makna kezaliman itu sendiri.
Tapi mari kita bertanya: benarkah Salahuddin menaklukkan Fatimiyah demi akidah? Atau demi stabilitas politik dan konsolidasi militer? Dan jika benar ia menghapus kekuasaan Fatimiyah, apakah itu berarti semua Syiah layak dibasmi sebelum melawan penjajahan?
Sejarah adalah medan tafsir, bukan kitab suci. Di tangan para penafsir dengan agenda sektarian, sejarah menjadi senjata. Digunakan bukan untuk menginspirasi, tapi untuk membenarkan kebencian yang sudah lama dibiarkan membusuk.









